Ketika sang fajar mulai
menjelang, Devan baru saja sampai
disekolahnya, “SDN Pacitan” Sekolah
bertingkat membentuk angkare yang menjadi idaman di Kota 1001 Goa ini. Devan
memasuki gerbang dengan ceria seiring
dengan kedatangan mentari membawa
semangat pagi bagi semua orang. Sesampainya di kelas, ia mendapati temannya
duduk termanyun disudut kelas. “Yo,
Byan !!!” teriak Devan dengan suara menggelegar membelah angkasa. “Berisik cok !!!”
bentaknya pada Devan. “Idih.. sensi amat. Napa sih? ” tanyanya
pada sang teman.“Takono Bagus kono! ” teriaknya kasar pada Devan. Yah.. mendengar itu, Devan
menduga bahwa ada masalah yang terjadi selama dirinya pergi. Namun, sikapnya
yang tak suka ikut campur membuatnya hanya keluar menikmati keindahan
sekolahnya dikala hari cerah bersinar. Rerumputan yang tumbuh subur, pepohonan
yang tinggi nan rindang di setiap sudutnya padu membentuk suatu harmoni dan
ruangan kelas yang begitu sunyi,dengan tembok hijaunya dihiasi kerajinan pot pourri di dinding utama kelas.
“Sungguh keindahan yang luar biasa” ujarnya dalam lamunan tatkala kedatangan
Bagus memecah lamunannya. “Yo, Gus, priye kabare? “ sapa
Devan penuh kehangatan.“Asem,”
jawabnya ketus, singkat, padat dan jelas. Sesudahnya Bagus bergegas pergi meninggalkan kelas dan tak lama kemudian, kelaspun
sudah dalam kondisi penuh terisi. Kelas
itu terasa longgar karena ditinggal
sebagian penghuninya dan liar tanpa
kehadiran sang Wali kelas yang tengah
sibuk mengurus suatu hal konon katanya teramat penting se hingga meninggalkan
murid - muridnya sendirian tanpa pengawasan yang pasti. Tanpa
angin pula hujan, Rizal atau lebih akrab
dihina “Bendol” salah satu antek – antek Bagus datang menghampiri Byan yang tengah
berbincang dengan Fandy. “Yan..minta
maaf, dekwingi aku karo bocah – bocah podo bolos resik – resik kelas,” kata
Rizal dengan wajah menunduk. “Pergi
!!!” bentak Byan tanpa ada niatan memaafkan sama sekali.
“Yan maaf, it was a misunderstanding
obnly,” balasnya. “Ra nggagas, pergi! “
Byan kembali berteriak dengan nada yang semkain menjadi – jadi. “Udah
to Ndol pergi aja dulu, daripada ribut,”
tambah anak – anak perempuan yang sudah mulai merasa tak nyaman dengan masalah
ini.“Jenengku
ke Rizal bukan Bendol,” bentaknya penuh amarah ke seisi kelas. Entah kenapa Byan
langsung mendorong rizal dan memukulinya tanpa ampun. Devan dan Fandy juga Bagus yang sudah sejak tadi
menunggu di luar kelas ikut menampakkan dirinya untuk melerai perkelahian itu.
Devan yang memegangi Byan berkata, “ Istighfar Yan…Sabar bro !” Namun baik
Biyan ataupun Rizal tampak tak menghiraukannya dan saling melemparkan caci –
maki bak orang yang sedang kesurupan.
Dan entah bagaiman Ibu Ninik yang memeiliki reputasi sebagai guru paling killer se-antero SD Negeri Pacitan
menampakkan diri didepan pintu kelas VI.A. Kehadirannya yang bagai jalangkung
itu begitu mengintimidasi, sontak
merubah situasi kelas secara drastis yang tadinya ramai dan sedikit brutal, kini sepi macam kuburan. Sang Guru mengaba – abakan para murid
untuk kembali ke tempat masing – masing dan langsung berceramah didepan kelas
bak penceramah ulung. Beliau berdiri seraya berkata, “Memalukan…..Kalian ini
sudah besar, sudah bukan anak – anak lagi, sudah mau lulus mbok bertingkah
sewajarnya saja, jadilah contoh yang
baik buat adik – adik kalian,” Ucapnya dengann nada penuh intimidasi dan
kekecewaan. “ Kalo ada masalah mbok
diseslesaikan baik – baik, sesuai panca sila kita, tepatnya sila ke-4 yaitu
musyawarah. Bukannya adu jotos kayak si Fashal Abyan dengan Rizaldi tadi, paham
semuanya ? ” Tanya Ibu Ninik. “Paham buk
,“ Jawaab para siswa serentak. Kemudian Ibu Ninik memanggil Byan dan Rizal maju dan menyuruh mereka menceritakan seluk – beluk kejadian dan permasalahan diantara Byan dan Rizal. “Sekarang
Ibu minta kalian menjelasakan masalah
kalian dimulai dari Byan lalu Rizal setelahnya,” Titah Ibu Ninik pada mereka
berduua.“Jadi
gini Buk, kan kemarin kamis kelas sudah sepakat pulang mau menghias dan mendekor kelas buk,” ungkap
Byan dengan mata berkaca – kaca.“Lalu mereka langsung pulang Buk, teruskan Buk pas
penilaian hari Sabtu kelas kebetulan dapat juara 1, lalu dapat hadiah jajan
buat sekelas Buk. Nah pas hari sabtunya buk jajannya pada digondol kabur mereka Buk” sambung Byan
dengan nada sedikit tinggi. “Tapi
kan sudah minta maaf tadi Buk,” kata
Rizal. “Iya
Buk bener !” sahut Bagus dan kawan – kawan.“Jadi kalian ini sudah nggak karuan gini sejak hari Sabtu ? “ Tanya Ibu Ninik pada seisi kelas “Iya
Buk, masak kami dibilangi pencuri. Ya.. Kami ndak terima Buk !” seru Bagus
dengan suara membara tiada tara.“Ya
kami jelas jelas ndak terima buk !. Kami itu teman sekelas mereka Buk !, bukan
pencuri seperti yang merka kata. Toh juga tadi pagi kami sudah minta maaf Buk, tapi malah diajak berkelahi seperti tadi,”
sambungnya dengan nada penuh emosi. “Benar itu Byan ?” Tanya Ibu Ninik pada Byan.“Tapi kan tetap saja buk” sahut Byan dengan suara bergetar. “Ibu nanya, ucapannya
Bagus tadi benar tidak?” Tanya Ibu Ninik desngan suara yang lebih
mengintimidasi. “
Benar buk,” jawab Byan dengan pandangan tertunduk kebawah.“Nah ..Sekarang kamu
minta maaf sama Bagus, Rizaldi juga sama yang lain ya nak? ” pinta Ibu Ninik pada Byan yang sedang berdiri
tertunduk di depan kelas. Setelahnya, Byan
hanya mengiyakan permintaan Ibu Ninik dan meminta maaf pada Rizal, Bagus dan teman – teman yang lain. “Anak
anak,kalau ada yang meminta maaf, ya dimaafkan. Jangan suka menjadi orang yang
pendendam, hidup akan menjadi
lebih indah kalau kita mau saling
memaafkan satu sama lain” .Setelahnya
Ibu Ninik, mengucap salam dan pergi menghilang entah kemana, meninggalkan kelas
dalam ketegangan yang masih berlanjut. Devan yang sejak tadi diam, mulai
menghampirir Byan dan berusaha menenangkan temannya, hatinya bimbang apakah dia
harus memihak temannya atau Bagus, karena pada saat itu Devan tengah berada di
luar Kota. Tak terasa bel pulang sudah berbunyi, ketegangan yang berlarut larut
telah mengaburkan perhatian mereka
terhadap lingkungan sekitar. Keesokan
harinya, Pak Rofiq, sang Wali Kelas yang sudah mendengar kabar kelas dari Ibu
Nini datang dengan wajah tenang tanpa emosi. “Anak
anak , Bapak minta maaf kemarin tidak bisa mendampingi kalian, kemari Bapak ada
rapat dengan orang Dinas Pendidikan Kota Pacitan,” kata Pak
Rofiq pada Devan dan kawan kawan “Sekarang
mari kita saling memaafkan satu sama lain, lalu untuk jajan hadiahnya, biar bapak beliakan lagi tapi
dengan syarat, masalah ini harus selesai
bisakan Gus ?,Byan ?” Tanya Pak Rofiq
pada mereka berdua. “Bisa
pak …” jawab mereka serentak. “Pak gimana kalau abis ini pada main
bola aja pak !!. Biar pada kompak gitu” Seru Devan dengan suara berapi - api. “Ide
bagus, nati Bapak minta tolong sama Pak Asrap, biar kalian semua bisa main bola” seru Pak Rofiq dengan suara penuh keantusiasan. Setelahnya,
Devan dan kawan kawannya melepaskan semua emosi dan ketegangan hari kemarin
dengan bermain bola. Segalanyapun kembali seperti semula bahkan mungkin,
sedikit lebih baik.
Read More ->>